Canon 100d, sebuah ulasan yang terlambat.

Di tengah gegap gempita kamera mirrorless, muncul keinginan langka pada diri saya, ingin punya kamera DSLR, karena menurut saya untuk dapat lebih mendalami ilmu photography, maka akan lebih maksimal kalo pake DSLR. #klise :p
Tapi menimbang dan mengingat tujuan awal saya punya kamera adalah untuk menciptakan poto beraliran streetphotography, maka sesungguhnya ukuran kamera-kamera mirrorless lah yang seharusnya saya gunakan, dan sebenernya udah ada si mungil Lumix LX100 sih (-____-)!

 

Tapi apa daya, saat itu keinginan untuk punya DSLR lebih kuat, maka saya pun melakukan pencarian di dunia maya mengenai tipe-tipe DSLR yang bisa dan cocok untuk menemani saya hunting streetphoto.

 

Canon 100d saya pilih karena saat lagi hunting kamera di salah satu aplikasi online shop, muncul lapak yang menjual kamera ini dengan harga yang masuk bajet dan lebih menggiurkan lagi karena sang penjual memasang judul : “DSLR Terkecil”.

 

Untuk lebih meyakinkan diri, saya japri sang seller, tanya ini itu, dan saya juga ubek-ubek google dan youtube, cari info sebanyak-banyaknya dan hasilnya memang Canon 100d saat ini kayaknya memang masih yang terkecil.

 

Tanpa pikir panjang (yang memang jarang saya lakukan :|) maka saya pun menukar uang saya dengan canon 100d + lens kit 18-55mm.

 

Harga di pasaran untuk canon 100d+lens kit yang baru sekitar 6jutaan, saya dapet harga 4,5jt kondisi second super mulus, dengan kelengkapan kayak baru, kan lumayan selisihnya bisa buat geganjenan dandanin si canon 100d alias beli aksesoris. 😀 dan percayalah, yang saya rasakan ketika unpacking barang dari si penjual sama persis ketika beli barang baru.

Mengenai spek canon 100d silakan cek disini.

 

Untuk tipe DSLR, canon 100d memang terbilang mungil, sedikit lebih gemuk daripada mirrorless, tapi feelnya pas di tangan saya yang tidak imut ini.

 

Jika dipasangkan Lens Kit, berat bebannya terasa jauh berbeda dengan mirrorless pada umumnya, namun masih lebih enteng daripada DSLR yang lain.

 

Anehnya, saya pernah pinjem fuji xt10 teman, dan sony A6000 milik adik saya. Saat memegang kedua kamera mirrorless itu feelsnya cukup ganggu buat saya (haha) namun saat saya pakai canon 100d kok berasa manteb genggamnya.

 

Fitur-fitur yang dimiliki juga cukup menarik, ada child mode, creative filter, bahkan ada efek fisheye loh.

 

Akan tetapi, karena niat punya DSLR adalah karena ingin lebih mendalami ilmu photography, maka saya pun lebih banyak memakai mode Manual. Maklum, newbie lagi banyak explore kombinasi Apperture, shutter speed dan ISO. ^_^v

 

Demi terwujudnya mimpi saya yang lain yaitu memiliki Prime Lens, terpasang lah lensa 50mm merk Yongnuo di canon100d, saya pilih merk yongnuo karena saya belom rela mengeluarkan rupiah untuk membeli lensa yang harganya hampir sama atau lebih mehong (mahal,red.) daripada body kamera. #sikap

 

Tampilan si canon pun lebih ciamik dan bikin gemetz karena jadi keliatan lebih mungil dan pastinya lebih enteng, dibawa hunting di tempat ramai pun tidak mencolok layaknya orang bawa DSLR.

Kinerja canon 100d sesuai ekspetasi saya, bahkan kadang melebihi apa yg saya harapkan, auto fokusnya cepat, responsive, pengaturan bisa diakses dengan mudah, walopun mode Manual, saya masih bisa motret momen-momen menarik, very easy to use, ga jauh beda kalo pake kamera tipe point and shoot.

Cuma kekurangannya yang paling saya rasakan adalah layar LCD yang masih kaku alias tidak memiliki articulating screen, tapi sudah touch screen, tidak ada LVF alias Live View Finder, dan untuk night shoot di tempat yang kurang cahaya ataupun indoor photo masih banyak noise, mesti dibantu pakai flash yang terangnya bisa ganggu orang radius 5 meter (lol!).

 

Baru-baru ini saya dipinjamkan lensa wide 10-22mm milik teman, beugh, bikin tampilan si canon keliatan gahar, tapi hasil potonya cukup membuat saya ternganga :O

Seperti yang banyak diinfokan di dunia maya, pilihan lensa untuk canon sangat-sangat banyak sekali, dan canon 100d bisa dipasangkan lensa canon yang memiliki teknologi STM dan sensor APS-C, mau pakai lensa manual juga bisa dengan tambahan adaptor.

 

Overall, saya puas dengan pilihan hidup saya, canon 100d + Yongnuo 50mm sudah cukup jadi gear andalan untuk menghasilkan poto-poto yang sesuai keinginan dan hasrat saya.

 

Menurut saya, people behind the gun masih jadi faktor penting, so apapun kamera kamu, yang utama adalah bagaimana kamu memaksimalkannya supaya bisa menghasilkan poto yang menarik.

 

Sekian ulasan dari saya, hasil poto lebih banyak lagi di akun instagram @akususie_s.

 

Salam,

 

-SS-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s